Waktu Subuh hampir menjelang. Engkau bangunkan diriku untuk melakukan sholat subuh. Tangisan dan teriakanmu membuat seluruh isi rumah bangkit. Dulunya Alaram handphone dan jam cukup untuk membangunkanku, namun kali ini dia telah digantikan oleh suaramu. Tangisanmu dan teriakanmu adalah pembangkit agar aku bangun untuk melaksanakan sholat jamaah di mesjid. Aku tak akan marah padamu karena engkau membangunkan diriku di pagi yang buta yang membuat godaan-godaan bantal dan guling serta selimut yang memanggil untuk kupeluk mesra. Engkau membuatku sadar, bahwa kewajiban harus ditunaikan, bahwa keutamaan haruslah diutamakan bukan diakhirkan.
Selamat pagi hari ini. Terima kasih, ponakanku.







